Wajah Lama Pemilukada Alor; Siapa Common Enemy?

0
214

Oleh : Rahmad Nasir
(Staf Pengajar STKIP Muhammadiyah Kalabahi-Alor)

Sejak diberlakukannya UU No. 32 tahun 2004 tentang Otonomi daerah telah menjamin demokrasi di tingkat daerah yang dilaksanakan dengan menyelenggarakan pemilukada secara langsung baik di level propinsi maupun kabupaten/kota. Politik lokal semakin menemukan dinamikanya tersendiri bahkan membuat para akademisi ramai-ramai mengamati dan memberikan kajian secara mendalam mengenai dinamika politik lokal dengan segala plus-minusnya serta berbagai kajian kontekstual tempat dimana pemilukada dilangsungkan. Dalam dinamika, hampir tak terelakkan ada gesekan secara horizontal maupun vertikal serta ruang demokrasi benar-benar dibuka krannya demi mengarahkan rakyat bukan saja menjadi objek politik namun bergeser menjadi subjek politik.
Pemilukada Alor semakin dekat. Para bakal calon kepala daerah/wakil kepala daerah sudah selesai melaksanakan pendaftaran di partai-partai yang memiliki kursih di DPRD Alor. Secara garis besar orang awam di Alor pun tahu bahwa ada tiga wajah lama yang tetap bertarung dalam pesta demokrasi ini yakni Simeon Pally, Amon Djobo dan Ima Blegur. Meskipun sementara dalam penjajakan komunikasi politik antara parpol untuk mendapatkan tiket kontestan resmi calon bupati/wabup Alor. Segala kemungkinan bisa saja terjadi apakah hanya akan dua paket atau tiga paket tergantung hitung-hitungan parpol yang ada di Alor.
Kondisi kursih di DPRD untuk masing-masing parpol tidak ada yang mencapai syarat minimal dalam mengusung 1 paket sehingga konsekuensinya adalah semua partai harus membangun koalisi. Untuk itulah komunikasi politik terus dibangun, di samping komunikasi bakal calon dengan parpol untuk meraih simpati fungsionaris partai. Lobi-lobi politik terus terjadi dalam kondisi senyap maupun yang tampak di permukaan. Publik menanti apakah pada akhirnya hanya akan ada dua paket atau tiga paket calon atau mungkin saja lebih jika ada bakal calon yang mendaftar lewat jalur independen. Termasuk ada beberapa wajah baru yang juga turut mendaftarkan diri sebagai bakal calon bupati maupun wakil bupati Alor. Seperti paket ILHAM serta beberapa nama yang hanya mendaftar sebagai bakal calon perseorangan seperti Mulyawan Djawa, Masdian Dore, Daud Pong dan Muhammad Yusuf.
Setidaknya 3 wajah yang disebutkan di atas memiliki kans yang sama untuk memiliki tumpangan politik atau memiliki tiket sebagai peserta pemilukada Alor 2018 ini, selain itu juga memiliki kans yang sama untuk menjadi pemenang saat pemilihan nanti. Pertanyaannya adalah di antara ketiga bakal calon ini manakah yang menjadi musuh bersama? Karena bisa saja dua kandidat yang lain berkonsentrasi menyerang salah satu yang menjadi musuh bersama. Pada umumnya patahana biasanya menjadi musuh bersama dari kandidat-kandidat lain. Hal ini disebabkan karena dalam kurun waktu hampir 4 tahun berjalan pemerintahan yang dipimpin Bupati Djobo bisa diukur dengan indikator-indikator pencapaian visi misi yang telah dijanjikan dalam kampanye sebelumnya. Seberapa besar keberhasilan program-program yang dicanangkan? Seberapa efektif dan bermanfaatnya segala kebijakan-kebijakan pada masa pemerintahan Djobo?. Beberapa indikator seperti peningkatan PAD dari tahun ke tahun seperti apa? bagaimana pertumbuhan ekonomi Alor? Bagaimana masalah penyerapan tenaga kerja di Alor dengan peluang kerja yang mampu direkayasa atau disediakan pemerintah. Seberapa persen pemenuhan janji-janji politik masa kampanye pemilukada lalu bahkan setelah menjabat mungkin saja ada janji-janji kepada rakyat yang belum ditunaikan, dan sebagainya dan sebagainya. Selain itu, dua wajah lama pernah dikalahkan oleh patahana sehingga bisa saja muncul ego dan balas dendam untuk membuktikan eksistensinya di mata publik.
Dalam mengevaluasi pemerintahan Djobo-Duru harus dilihat secara kompeherensif dan dikaji secara mendalam dengan berbagai pertimbangan dan sudut pandang sehingga tidak terkesan menghakimi tanpa argumentasi yang kuat dan valid. Secara ideal sebenarnya evaluasi terhadap roda pemerintahan Djobo-Duru tidak semata didasari pada perbedaan kepentingan politik atau atas asas suka tidak suka (like and dislike), namun harus berangkat secara objektif yakni evaluasi pemerhati sosial terhadap pembangunan di negeri seribu moko ini. Jika dilihat dalam dinamika yang perlahan memanas kritik terhadap pemerintahan sekarang cukup masif oleh lawan politik patahana dan itu bagi saya sah-sah saja sepanjang masih dalam koridor hukum dan etika yang baik sebagai orang Alor yang berbudaya. Kecenderungan menyerang kandidat patahana oleh paket-paket lain hampir tak terhindarkan. Auranya cukup dirasakan dalam atmosfir media sosial yang ramai dengan kritik mengkritik antara para tim sukses yang bergentayangan di dunia maya maupun dalam diskusi formal dan non formal antara masyarakat di mana pun berada. Sesama bakal calon dan timsesnya bisa saja menggunakan adagium Gao Yuan dalam 36 Startegi Perang Cina yakni “membunuh dengan pisau pinjaman” atau bahkan “menyembunyikan senyuman dalam pisau belati”.
Masyarakat yang terkonfigurasi dalam perbedaan suku, agama, golongan serta variabel lain adalah hukum alam (sunatullah) yang harus dikelola secara dewasa oleh seluruh kalangan Alor sehingga menjadi dinamika dan pembelajaran politik positif bagi masyarakat Alor terutama mewujudkan pemilukada berkualitas, baik secara prosedural maupun substantif.
Harus diingat bahwa pada putaran kedua pemilukada 2013 yang lalu berdasarkan rekapitulasi KPUD Alor, pertarungan antara paket SIMPATI dan AMIN telah memberikan indikasi bahwa faktor identitas berdasarkan etnisitas cukup memberikan pengaruh pada perolehan suara masing-masing kandidat. Bisa dilihat kemenangan masing-masing kandidat masih didominasi oleh faktor dari suku/sub suku mana kandidat berasal. Konstruksi politik identitas masih kuat mewarnai momentum-momentum politik di Indonesia termasuk Alor. Saya ambil contoh saja paket Pelangi yang memiliki basis berdasarkan etnisitas di Pantar menang dengan angka-angka yang cukup signifikan, misalnya kecamatan Pantar paket SIMPATI (2642) dan AMIN (1096), kecamatan Pantar Barat paket SIMPATI (2087) dan AMIN (1023), Kecamatan Pantar Tengah paket SIMPATI (4342) dan AMIN (610), kecamatan Pantar Timur SIMPATI menang telak dengan angka (4883) dan AMIN hanya 765 suara serta kecamatan Pantar Barat Laut SIMPATI (1783) dan AMIN (465). Hal yang sama juga terjadi di kecamatan ABAD sebagai basis kesukuan dari paket SIMPATI dengan perbandingan angak paket SIMPATI (5878) dan AMIN (4800). Sementara di kecamatan-kecamatan lain terutama di pulau besar (Alor) serta kecamatan Pulau Pura yang merupakan basis kesukuan paket AMIN, paket AMIN memperoleh kemenangan dengan angka yang signifikan. Apalagi jika konsensus-konsensus adat/budaya yang masih kental digunakan dengan baik untuk membangun ego identitas sosial etnisitas maka tentu akan sangat berpengaruh terhadap dinamika dan hasil demokrasi ini.
Diprediksi trand ini berlangsung sama, meskipun akan mengalami sedikit perubahan. Faktor kandidat lain di luar kandidat wajah lama bisa saja membuat perubahan yang besar atau paling tidak masing-masing kandidat mampu menghancurkan basis pertahanan suara berdasarkan variabel suku. Isu-isu menjelang hari H pilkada dengan segala sepak terjang penguasa yang akan maju lagi serta isu-isu program masing-masing kandidat bisa saja mampu menghipnotis pilihan politik masyarakat Nusa Kenari.
Bagi saya masyarakat Alor adalah masyarakat yang sangat menjunjung tinggi adat/budaya dengan segala kearifan lokal (local wisdom) sehingga siapa pun yang menghargai satu aspek penting ini tentu akan mendapatkan kepercayaan rakyat Alor. Kandidat harus tahu etika adatia saat membangun komunikasi dengan para tetua adat di kampung-kampung karena suara mereka masih sangat didengar rakyat bahkan elit-elit kampung yang ada di Kota, jika tidak maka akan terjungkal dalam momentum politik ini. Aspek adatia bukan sekedar tentang tradisi upacara secara prosedural namun lebih dari itu memaknai nilai-nilai luhur yang turun-temurun dari nenek moyang Alor sejak dahulu termasuk di dalamnya nilai sikap dan integritas serta kebermanfaatan bagi banyak orang.
Patahana akan diserang habis-habisan oleh bakal calon lain dengan berbagai kelemahan/kekurangan yang mungkin saja dideteksi pihak lawan. Oleh karena itu energi tim sukses patahana akan cukup terkuras menepis serangan yang lebih dari satu arah. Pally dan Ima punya pengalaman pahit kalah dengan Amin sehingga harus menjadi evaluasi kritis dalam pertarungan yang kini sudah dimulai lagi. Rekruitmen tim sukses juga bukan asal-asalan namun harus dilihat modus, kualitas, ketokohan serta yang sangat penting adalah kesetiaan dan kejujuran. Meski demikian, serangan terhadap patahana yang berlebihan juga bisa menjadi kontraproduktif jika disampaikan dengan tanpa etika dan tidak memiliki dasar argumentasi yang kuat. Hal ini dikarenakan masyarakat Alor bahkan di pelosok-pelosok sudah cerdas dan mampu meganalisis secara objektif mana diantara kandidat-kandidat yang terbaik dalam melayani Alor nantinya. Masyarakat Alor juga memiliki rasa kasihan yang tinggi terhadap oknum yang disakiti atau seolah-olah disakiti melalui politik pencitraan yang jika dikemas dengan baik oleh tim sukses maka dapat membangunkan rasa simpati dan empati dari kalangan masyarakat yang sampai hari ini belum menentukkan pilihan. Politik citra seperti ini juga bisa dimainkan oleh kandidat lain dengan membuat kesan menjadi korban atau yang tersakiti pada cerita dinamika politik pada pemilukada sebelumnya. Tapi apakah masih efektif dengan gaya menyakiti diri sendiri untuk mendapatkan perhatian?.
Saran saya, sebaiknya selain membangun fungsi kontrol yang kritis objektif parat tim sukses sebaiknya juga memberikan porsi yang besar terhadap sosialisasi visi-misi/program-program unggulan kepada masyarakat sehingga masyarakat Alor dapat memprediksi/memproyeksikan sedikit gambaran tentang model dan kualitas kepemimpinan pemerintah daerah jika mereka memimpin. Ditambah lagi dengan upaya meyakinkan rakyat bahwa pahlawan bagi problem Alor selama ini adalah kandidatnya. Ini adalah salah satu strategi positif yang juga ikut menyumbang iklim politik yang kondusif dan saya kira mampu menarik simpati masyarakat dengan cara-cara santun seperti ini.
Jika lebih dari dua paket maka secara psikologis, perhatian kandidat lain terhadap kandidat lain yang bukan patahana bisa hilang/kabur karena lebih fokus terhadap patahana. Tanpa sadar, mereka lupa mengkritisi sesama kandidat meskipun upaya mengkritik kandidat lain bisa saja mencuat meskipun tidak begitu masif. Artinya, segala program/kebijakan yang dianggap salah atau tidak pro terhadap kebenaran dan nasib rakyat kecil akan ditampilkan dan menjadi hidangan nikmat bagi publik. Patahana harus berhati-hati, patahana harus siap mental, patahana harus siap mengklarifikasi sehingga rakyat tidak curiga atau menghakiminya dengan tidak memilihnya pada pemilukada 2018 yang kian dekat. Bukankah patahana Alor tidak mau bernasib seperti beberapa patahana lain yang kalah dalam pemilukada di daerah lain?. Selamat berdemokrasi untuk Alor yang lebih baik.

Facebook Comments