CERPEN Yasir Arafat Stalin “SENANDUNG RINDU LELAKI PESISIR.

0
129

Siang itu, entah kenapa bibir Bai Niko mengerucut. Ia tampak gusar, sesekali kulihat mulutnya komat-kamit seperti sedang merapal sesuatu. Wajahnya terbaca jelas sedang sedih.

Dengan rasa penasaran yang menggelinjang di otakku, kudatangi pak tua yang telah berumur hampir seabad itu.
“Nimang, Kenapa ko itu muka su begitu?”

Mendengar suaraku, ia memperbaiki posisi duduknya serta memperbaiki raut mukanya untuk menutupi kesedihan yang sedang bergelayut di wajahnya.
“Ehh.. Anak Yasir. Tidak ni,” balasnya, wajahnya menyemu memerah karena malu.
“Tidak ju, itu muka begitu. Cerita ko, Bai. Siapa tau, anak bisa bantu ko apa,” ujarku.

Aku kemudian duduk di sampingnya dan memandang laut yang sedikit berarus, seperti yang dilakukannya sejak tadi dengan pandangan kosong.
“Serius, Anak! Tidak ada,” sangkalnya lagi.

Raut mukanya mampu kutebak, jika ia mempunyai persoalan yang serius sehingga membuatnya gundah gulana di bibir pantai sejak tadi.

Kami pun diam seribu bahasa sembari memandang laut yang riuh bergelombang. Masih dengan diam, aku mengeluarkan sebungkus rokok Saliti (Satu Lima Tiga) dari saku celanaku. Dengan bahasa isyarat aku menawarkan rokok kepadanya.
“Bai, kalo bai punya masalah tu sebaiknya dibagi. Biar sesak yang Bai rasa tu bisa hilang meski tidak semuanya,” ucapku memberikan pemahaman kepadanya.

Kunyalakan rokok, menghirupnya dalam-dalam dan menghempaskan ke udara yang dinginnya merejam tubuh. Ia hanya terlihat manggut-manggut.
Entahlah, apa yang ia pikirkan sehingga membuatnya manggut-manggut. Pandangannya tetap menghampar jauh ke laut, sepertinya ia sedang mencari cara agar bisa menceritakan kepadaku tentang masalah yang dihadapinya.
Ia menyalakan rokok yang aku berikan tadi kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah ke depan.

“Bai rindu deng bai pung anak yang su hampir 25 tahun merantau pi Batam, tapi sampe sekarang tidak pulang-pulang juga,” ucapnya, nada suaranya serak dan datar.
Meski posisinya membelakangiku. Aku mampu menangkap kesedihan yang mendalam karena ia terlihat mengusap-usap matanya.
“Dulu, kalo musim-musim mau Natal begini. Bai deng dia biasa turun di laut silam bubu dan hasil tangkap bubu, kami pake buat makan setelah pulang dari gereja.”

Ia membalikkan tubuhnya dan duduk di sampingku. Matanya terlihat sembab. Dari kedua pancaran bola matanya, aku melihat kerinduan yang terlalu kepada buah hatinya. Aku menatapnya, mulutku terkatup, tak ada sepatah kata yang mampu aku ucapkan. Ia menghela nafas panjang seperti ingin sekali mengeluarkan segala sesak yang telah lama mengendap di dadanya.
“Bai, bagaiamana kalo anak deng bai turun ambil bubu?” ajakku.

Aku menggenggam tangan keriputnya. Aku berusaha menghiburnya dan mengajaknya untuk melakukan hal yang tak pernah aku lakukan. Ia mengangguk dan mengembangkan senyum.

Sebenarnya ada ketakutan luar biasa yang aku rasakan. Sebab, telingaku mampu menangkap riuhnya gemuruh arus yang memekakan telingaku.
“Hei, Anak. Kenapa anak pung merah begitu?”
Aku hanya diam dan berusaha menutup segala ketakutanku.
“Apakah ia mampu membaca fikiranku atau ia telah tahu, jika arus yang begitu deras membuat kelakianku menciut”, batinku, sengaja tak dengar apa yang ia tanyakan.

Kami menurunkan perahu berukuran kecil yang selalu ia tepikan di belakang sekolah tempatku mengajar. Meski tubuh perkasanya telah termakan usia, ia begitu cekatan melewati bebatuan licin.
“Anak. Hati-hati!” ujarnya

Aku hanya menganggukkan kepala dan tak mengeluarkan suara. Aku tak ingin berbicara lebih banyak. Sebab, kecamuk resah menggerayangi fikiranku. Aku hanya menuruti setiap apa yang ia perintahkan.
***
“Ni hari ikan banyak e, Bai?” tanyaku, dengan nafas yang tersandung ditenggorokan, sebab kami harus mengangkat perahu ukuran kecil itu dan meletakkannya kembali di tempat semula.

Ia meperlihatkan giginya. Dari binar matanya tersirat berjuta kebahagiaan yang aku temukan. Setidaknya aku merasakan bahagia yang luar biasa karena aku mampu membuatnya tersenyum bahagia.

“Ini anak pung bagian.”
Ia menyodorkan beberapa ekor ikan kepadaku.
“Bai bawa pulang saja, nanti baru Anak datang di rumah ko makan sama-sama deng Bai,” tolakku.
“Tidak apa-apa, Anak. Anak bawa pulang ko buat tanglahing)* ju bae,” paksanya.
“Sudah, Bai. Bai bawa pulang ko kasih Memet masak baru anak pi makan sama-sama deng Bai dong.” tolakku lagi.
“Yo, itu ju bae. Tapi betul anak datang makan e?”

Aku mengiyakan permintaannya, seiring langkah kaki kami berpisah di bibir pantai, yang arusnya masih terdengar bergemuruh riuh seolah bersenandung tentang kebahagian pak tua bernama Bai Niko.
S E L E S A I

Pulau Pura, 20 Desember 2014

Penulis : Yasir Arafat Stalin

Facebook Comments