Opini : Pelipus Alota “Suara Anak Pribumi Alor Selatan.

0
125

Seperti layaknya setiap ciptaan Tuhan,bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budayanya dan seluruh kelu kesa rakyat jelatanya.

Ketika berdiri dihadapan forum dan berbicara dan mereka merespon dengan tepuk tangan yang meriah itu sudah biasa. Bahkan ada yang menyampaikan rasa kagum dan berterima kasih berkali-kali.
Terkadang aku terbawah dorongan yang terus menghantui batin ini untuk merubah tatanan kepemerintahan kabupaten Alor.

Didaerah ini banyak pemangku kepentingan pemerintah yang seakan-akan berhadapan dengan manusia polos dan lugu yang terjebak oleh arus kemacetan lalulintas.

Ketika pemimpin terlihat seperti ini bagaimana dengan bawahan samapai pada masyarakat pribumi. Mau menyeberang takut,tetapi memilih untuk terdiam ,kapan sampai tujuan.sementara tujuan ada diseberang jalan.
Hal politiksasi menjadi sasaran utama para elit Negara dibumi nusa kenari. Urusan sedemikian kompleks,bagai benak kusut tak terurai,hal politik merupakan potret kehidupan social-kenegaran,baik yang tampak dalam wujud dalam gerekan ataupun aliran maupun dinamika kehidupan secara menyeluruh.

Saya berpandangan sebagai seorang aktivis datang mengutarakan semua ini berdasarkan tinjauan saya. Singkat kata semua ini terjadi karena factor kemiskinan,kesenjangan social,kesenjangan keimanan, kesenjangan ideology,ketidak adilan ekonomi,,politik dan hokum serta kerusakan tatanan kehidupan lainnya.
Konflik-konflik yang bersumber dari minuman keras,aliran-aliran keagamaan dan kriminilitas merupakan sebuah persolan besar yang menimpah daerah ini,lantas siapa yang akan membrantas semuanya ini ? jikalau semua persoalan itu muncul dari kaum muda nusa kenari.

Bagaimana dengan semboyan orang Alor “TARAMITI TOMINUKU”yang dalam bahasa indonesianya berbeda-beda tempat tinggal tetapi kita adalah satu.
Siang berganti malam,bulan berganti bulan,tahun berganti tahun sampai kapan semua persoalan ini berakhir.

Kondisi ini semakin diperpara oleh para pemangku kepentingan daerah ini, mereka melontarkan suara-suara loncatan yang penuh harapan. Namun semuanya itu hilang sekejab. Kapatalisme dan individualisme telah menjadi dara daging. Dikabupaten ini,saya memandang berbagai gejolak ketatananegaraan yang tidak bersih,pemimpin berganti pemimpin yang hanya memberikan harapan-harapan palsu kepada masyarakat jelata sambil melontarkan suara-suara nyarin tampa keraguan dan berjanji kami akan melakukan perubahan, lantas dimanakah perubahan itu.?
Hasilnya nihil,mereka dipermainkan bagaikan seorang boca yang menunggu hadia ketika ibunya pulang dari pasar.
Sejenak aku terdiam sambil memandang bumi seribu moko ini, tampanya hal kebenaranlah yang perlu ditegakan. Tampa kebenaran bangasa inilah,bangsa ini juga tak bisa bangkit. Jalan satu-satunya adalah mempertahankan kebenaran dan menyebarkan kebenaran,dengan nuansa keberanian untuk menggugat kepalsuan dan penyimpangan melalui berbagai cara seperti pendidikan,penyadaran,perlawanan,dan membangun jaringan untuk memperluas pengikut-pengikut kebenaran.

Wahai saudara-saudaraku setanah air Indonesia, dimakah kalian, wahai kaum muda nusa kenari apakah kalian mencintai negeri penuh persaudaraan ini.
Marilah secara bersama-sama menyuarakan semua ini kepada penguasa kita bahwa inilah suatu hal yang tak terbantakan yaitu kebenaran akan menjadi penjaga bagi jalannya masyarakat kabupaten alor yang menginginkan hilangnya kebohongan yang biasanya dijadikan alat untuk melakukan penindasan dan penyimpangan.
Alor harus dibangun dengan bebas diskriminasi,bebas intimidasi,bebas korupsi, kolusi dan nepotisme dan semua kesenjangan yang terus terjadi antara kaum kapatalis dan pribumi.

Inilah harapan kami kepada para pemimpin tercintah kami yang telah kami berikan kesempatan untuk mendengar jeritan rakyat. Layanilah kami secara merata tampa memandang perbedaan. Semua harapan kami terpantri diatas pundakmu yang penuh kehormatan itu.
Kami selalu mendoakan, memberimu kehormatan karena bagi kami tuan-tuan adalah ayah dan ibu kami.
Tetapi sepertinya ini hanya menjadi sebuah doa dan harapan yang tiada berarti laksana angin menghembus lalu menghilang.

Kurang lebih 56 tahun pembangun telah dilaksanakan tetapi mengapa kami masyrakat terpencil masih belum menikmati kemerdekaan yang sesunggunya. Kini harapan kami tenpatri pada pemimimpin masa sekarang, semoga bisa mendengar jeritan anak pribumi dari daerah terisolir ini.

Saya menulis ini karena kepedulian saya terhadap pemulihan Kabupaten Alor terkhusunya kecamatan Alor selatan. Sebagai anank pribumi saya mengutarakan semua ini apa adanya berdasarkan realitas kehidupan kami. Jika ada 1000 orang pemuada biarlah saya yang ke-1000,bila ada 100 0rang pemuda biarlah aku yang ke-100,bila ada 10 pemuda biarlah saya yang ke-10 dan bila ada 1 pemuda, itulah saya. Akhir kata saya inin menyampaikan salam persatuan, salam kaum muda nusa Kenari.

Oleh : Pelipus Alota.

Facebook Comments