Sidang NTT Fair : Erwin Makatita Sebut  Tri Johanes Bantu Proses Pencairan dan Pengalihan Ke Rekening Pribadi Linda Liudianto.

0
515

Mahensa Express.Com – Kupang, Sidang lanjutan kasus proyek pembangunan NTT Fair yang menjerat Direktur PT. Cipta Eka Puri, Hadmen Puri memasuki sidang ke lima. Terungkap laporan progres pembangunan proyek NTT Fair adalah fiktif dan tidak sesuai fakta lapangan, serta terungkap fakta dalam persidangan saksi Erwin Makatita selain palsukan tandatangan masih merupakan keponakan dari Wakil Pimpinan Bank NTT KCU Kupang.

Sidang dipimpin oleh Majelis Hakim, Dju Johnson Mira Mangngi. SH., MH, Hakim anggota (Ari Prabowo. SH) dan Ali Muhtarom. SH., MH. Sementara Jaksa Penuntut Umum (JPU) yakni, Herry Franklin. SH., MH, Emerensiana. F. Jehamat. SH dan Hendrik Tiip. SH. Sedangkan terdakwa Hatmen Puri didampingi oleh kuasa hukumnya, Samuel Haning. SH., MH, Marthen Dillak. SH., MH dan Simson Lasi. SH., MH, berlangsung di pengadilan Tipikor Kupang, Jumat (08/11/2019).

Dalam sidang tersebut, JPU menghadirkan 4 orang saksi, masing-masing: Bonefasius Ola Masan, Pimpinan Cabang Bank NTT KCU Kupang, Yohana Marselina Bailao, Wakil Pimpinan Cabang Bank NTT KCU Kupang bidang bisnis perkreditan, Herjuno Oematan, Official administrasi keuangan dan Maria Joaquina Da Silva, Bendahara Dinas PRKP.

Kuasa hukum dari Hadmen Puri, Samuel Haning. SH., MH., kepada Media Purna Polri menyatakan, kesaksian Erwin Makatita yang adalah bendahara proyek mengaku bahwa, oknum pengawai Bank NTT dibagian kredit bernama, Tri Johanes alias Tejo yang memuluskan proses pencairan anggaran termin ketiga sebesar Rp.12 miliar.

Dana Rp.12 miliar lebih itu dicairkan di Bank NTT dan masuk ke rekening Dirut PT. Cipta Eka Puri, Hadmen Puri, kemudian dialihkan ke rekening kontraktor pelaksana Linda Liudianto.

Dana termin ketiga proyek bermasalah tersebut dicairkan melalui bantuan Tri Johannes. Padahal, proses pencairan dana termin ketiga itu tidak sesuai SOP.

“Erwin juga mengaku, untuk pencairan dana termin satu sampai termin tiga, dia yang melakukan tanda tangan Dirut PT. Cipta Eka Puri, Hadmen Puri. Kemudian berkas pengajuan pencairan dana diajukan ke PPK Dona Fabiola Tho untuk ditandatangani dan disetujui, ujar Sam Haning.

Selanjutnya, Erwin membawa berkas pengajuan pencairan dana itu ke Bank NTT Kantor Cabang Utama (KCU) Kupang untuk mencairkan dana tanpa sepengetahuan Pak Hadmen.

Lanjut Haning, dalam proses pencairan dana, pemblokiran rekening dan pembukaan pemblokiran rekening terjadi sangat mudah karena melibatkan orang dalam di Bank NTT yakni hubungan antara saksi Erwin Makatitta dengan Wakil Pimpinan Bank NTT KCU Kupang, Yohana Marselina Bailao masih hubungan keluarga (keponakan). “Proses pencairan dan lainnya itu sangat mudah karena Erwin melibatkan keluarga orang dalam di Bank NTT KCU Kupang itu,” ujarnya.

Wakil Pimpinan Bank NTT KCU Kupang, Yohana Marselina Bailao dalam sidang lanjutan tersebut mengatakan sebagai saksi saat ditanya oleh Hakim tentang siapa yang membuka blokir Bank untuk pencairan dana Rp.2,9 miliar? Yohana mengaku dirinya tidak tahu. “Saya tidak tahu pasti yang mulia. Saya waktu itu sedang sakit dan diopname,” ucapya.

Pimpinan Cabang Bank NTT KCU Kupang, Bonefasius Ola Masan mengaku, tidak tahu terkait pengalihan uang dari rekening Hadmen Puri ke rekening Linda Liudianto dan dia juga mengaku bahwa, jaminan 50 unit rumah di Batuplat, dirinya hanya tahu dari foto-foto rumah tersebut, tapi tidak pernah turun ke lokasi untuk melihat fisik rumah karena itu bukan merupakan tupoksinya.

“Saya tidak tahu, karena waktu itu saya sedang tugas luar dan ketika pulang dapat laporan kalau ada pencairan. Sekitar bulan Maret (2018) saya perintahkan karyawan untuk ketemu Linda Liudianto untuk kembalikan uang,yang akhirnya 7 miliar lebih bisa kembali, dan menyangkut jaminan 50 unit runah itu bukan tugas saya, ”jelasnya. Sidang ditunda pada pekan depan dengan agenda menghadirkan saksi ahli.(MA/tim)

Facebook Comments